Pertemuan 2A - Aksiologi

Pertemuan 2A
Aksiologi
oleh Bpk.Mikha Agus Widiyanto, S.Th. M.Pd.


Aksiologi berasal dari Bahasa Yunani yaitu axio yang berarti nilai yang berkaitan dengan kegunaan dan logos yang berarti ilmu. 

Aksiologi merupakan cabang Filsafat yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.
Merupakan suatu ilmu yang membicarakan tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri.


Menurut Surisumantri, aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
Aksiologi bagian dari Filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk, benar dan salah, serta tentang cara dan tujuan dari perbuatan manusia.

Aksiologi dibagi dalam 2 bagian, yaitu
  1. Etika (Filsafat Etika)
  2. Estetika (FIlsafat Keindahan)


Fakta dan Nilai

Aksiologi membedakan "yang ada" dengan nilai, membedakan fakta dan nilai

Nilai berperan dalam suasana apresiasi, sedangkan fakta dalam konteks deskripsi.

Fakta selalu mendahului nilai, fakta dahulu baru penilaian dari fakta itu
Ada 3 ciri-ciri nilai :


  1. Nilai berkaitan dengan subjek
  2. Nilai tampil dalam konteks praktis
  3. Nilai menyangkut sifat yang ditambah oleh subjek pada sifat yang dimiliki oleh objek 
Ada 2 macam nilai :


  1. Nilai ekonomis
  2. Nilai estetis
Nilai moral

Setiap nilai memperoleh bobot moral bila diikutsertakan dalam tingkah laku moral.


Ada 4 kelompok nilai :



  1. Nilai yang menyangkut kesenangan dan ketidaksenangan terdapat dalam objek yang perpadanan dengan makluk punya indera.
  2. Nilai-nilai vitalitas - perasaan halus, kasar, luhur, dll.
  3. Nilai rohani seperti nilai estetis (bagus jelek), benar salah (tidak terikat pada permasalahan inderawi)
  4. Nilai Religius seperti yang kudus dan tidak kudus menyangkut objek absolut
Ciri-ciri nilai moral :


  1. Berkaitan dengan tanggungjawab kita sebagai manusia.
  2. Berkaitan dengan hati nurani
  3. Mewajibkan, misalkan nilai moral mewajibkan secara absolut
  4. Bersifat formal. Tidak ada nilai moral yang "murni" terlepas dari nilai lain.
Obyektivitas dan Subyektivitas Nilai

Nilai kadang-kadang bersifat obyektif dan bersifat subyektif.


Tolak ukur suatu gagasan itu berada pada obyeknya bukan berada pada subyek yang melakukan penilaian.



Nilai menjadi subyektif apabila subyek berperan dalam memberikan penilaian, kesadaran manusia menjadi tolak ukurnya.
Nilai subyektif selalu memerhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.
Peran Nilai bagi Kita 


  1. Nilai merupakan objek sejati bagi tindakan manusia
  2. Nilai mengarahkan manusia dan memberi daya tarik bagi manusia dalam mebentuk dirinya melalui tindakan-tindakannya
  3. Menata hubungan sosial dalam masyarakat
  4. Memperkuat identitas kita sebagai manusia

Sumber : PPT Tim Dosen Filsafat

4 komentar:

  1. lengkap postingannyaa! 88 buat mayaaa

    BalasHapus
  2. cukup jelas nih isinya haha 87 yaa :D

    BalasHapus
  3. isinya bagus dan desain nya menarik nih
    gw kasi 80 yaa

    BalasHapus
  4. jelas nih isinya maya,mudah dimengertii,nilai 88 yaa

    BalasHapus